banner-1

Makassar

Asal Usul Jalur Hijau Manggala Diatas Tanah Lompo Batua

Jalur Hijau Manggala diatas Lompo Batua

Makassar, metrotimur.com – Warga Manggala benarkan diatas tanah persil lompo batu merupakan zona hijau manggala sejak dulu.

Pengakuan salah satu warga inisial NL (72) manggala yang tinggal tidak jauh dari lokasi jalur hijau membenarkan bahwa diatas tanah persil lompo batua merupakan tanah negara untuk peruntukan tanah penghijauan.

“Sejak dulu tanah lompo batua itu kami ketahui itu adalah tanah negara untuk peruntukan penghijauan, ” kata NL kepada awak media saat ditemui dirumahnya disekitar lahan Jalur Hijau Manggala, kamis (16/11/17).

Beberapa bukti yang diperlihatkan NL bahwa Jalur Hijau tersebut ada sejak dulu dalam bentuk peta (site plan) yang ukuran peta (site plan) kurang lebih panjangnya 2 meter. Kemudian NL kepada awak media menjelaskan bahwa Ia dan keluarganya jauh sebelum perum perumnas datang membangun Ia sudah tinggal dan berbatasan langsung dengan lahan yang disebutnya penghijauan.

Gambar (site plan) Jalur Hijau Manggala

“Jauh sebelum Perumnas datang membangun saya sudah tinggal disekitar lahan penghijauan itu, bahkan kami tahu itu lahan penghijauan maka kami yang ada disekitarnya diwajibkan untuk melakukan penanaman pohon untuk penghijauan karena tanah kami juga masuk dalam zona penghijauan tapi tidak dibebaskan oleh pemerintah, ” terang NL.

Lanjut NL, adapun penggarap dari lokasi penghijauan (Jalur Hijau) dari keterangan NL, penggarap sudah lama meninggal tapi menurut NL almarhum sebelum meninggal penggarapnya ia tinggal dilokasi tersebut dan bercocok tanam.

“Penggarapnya tinggal di Lompo Batu sambil bercocok tanam sampai dia meninggal, ” kata NL.

NL kemudian menceritakan asal usul tanah Lompo Batu Manggala, disebut tanah lompo batu karena sebagian lokasinya itu berada diatas bukit berbatu yang kini ditempati oleh IPA III Antang dan Masjid Besar Nurul Amin Perumnas Antang (blok I) dan sebagian berada didataran rendah yang kini berdiri puluhan ruko diatasnya, ungkap NL.

Baca juga :  Walikota Danny Ditantang Ciptakan Kawasan Religi di Gombara

Hadirnya Perum Perumnas mengklaim kalau itu lahan yang pernah dibebaskan, NL mengatakan, ” Saya juga tidak tau persis bagaimana prosesnya waktu itu, karena lompo batu itu memang satu kedudukan persil dengan lahan saya, jadi terkait itu sudah dibebaskan apa tidak oleh perum perumnas saya sama sekali tidak tahu, ” kata NL.

Tetapi akunya (NL) sebelum berdirinya ruko tersebut yaitu baru perencanaan pembangunan , Ia pernah berdebat dengan pihak pengukur dan menurut NL pengukur adalah dari pihak Perum Perumnas.

“Waktu dia ukur ( Perum Perumnas) saya tegur, karena termasuk lahan saya juga ikut diukur, setelah saya desak kenapa diukur pengukur itu mengatakan akan dibangun ruko oleh salah seorang pengusaha ruko di Kota Makassar, ” kata NL.

Saat dikonfirmasi siapa pengusaha ruko tersebut, NL tidak mengetahui persis siapa nama dan orangnya yang pastinya menurut informasi yang dia dapatkan NL mengatakan, “Kalau saya tidak salah ingat yang membangun ruko di atas jalur hijau tersebut itu pengusaha ruko yang juga pernah dieksekusi rukonya di sekitaran Daya atau Tamalanrea, ” tutup NL.

Sekadar diketahui kata ” Lompo ” itu adalah kedudukan lahan, sementara kata ” Batua ” adalah pertanda bahwa lahan tersebut adalah kawasan batu (bukit). Kalau diterjemahkan dalam pencatatan dalam buku tanah (rincik) disebutkan sebagai Persil. (Ron).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top