banner-1

Peristiwa

Efek Mati Lampu Modal Jagung Masak Ikut Padam, Pedagang Genset Panen Raya

BARRU, METROTIMUR.COM – Akibat putusnya aliran listri PLN yang mengakibatkan padamnya lampu disejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, warga Mangkoso Kab.Barru merasa sangat dirugikan.

Hal itu disampaikan oleh Salma (41) warga Kampung Mangkoso Kecamatan Soppeng Ri Aja seorang penjual jagung masak yang berjualan dijalan poros Barru. Putusnya aliran listrik yang terjadi sejak kemarin sore, kamis (15 /11/18) sekitar pukul 15.00 wita, Salma mengungkapkan bahwa sampai tadi siang, jum’at (16/11/18) saat ditemui oleh awak media mengatakan, bahwa terputusnya aliran listrik sejak sore kemarin sampai saat ini masih terjadi.

“Benar pak, sejak kemarin sore sampai masuk sholat jum’at hari ini, di tempat kami disini lampu juga belum bisa menyala, kami sangat kesusahan untuk berjualan jagung masak kalau malam hari, pembeli tidak mau singgah, ” aku Salma kepada metrotimur.com, saat ditemui ditempat jajakan jagungnya di jalan poros Barru, jum’at (16/11/18).

Pengakuan Salma, selama 18 tahun ia berprofesi sebagai penjual jagung masak, mati lampu yang dirasakan paling parah mati lampu yang saat ini terjadi. Bagaimana tidak, kata Salma, “Biasanya kalau mati lampu itu hanya sebentar, ini mati lampu dari kemarin sore sampai sekarang belum juga ada tanda – tanda mau nyala, sementara kami ini para penjual jagung masak, pembeli selama ini pada malam hari itu puncak orang yang singgah beristirahat sambil nikmati jagung masak”.

Olehnya kami berharap kepada pihak PLN untuk mengerti keadaan orang kecil seperti kami. Menurutnya, ia mengaku bagian dari orang kecil, taat bayar iuran sesuai batas waktu yang ditentukan oleh PLN, karena ada sanksi yang ditetapkan oleh PLN jika terlambat membayar, selain denda ada juga ancaman KWH nya dicabut.

Baca juga :  Komisioner Panwas Makassar Tutup Usia, Warga: Selamat Jalan Pejuang Demokrasi

“Kami taat bayar iuran sesuai dengan batas waktu yang ditentukan oleh PLN, karena kami takut didenda apalagi KWH dicabut, artinya harus adil kepada kami sebagai masyarakat kecil yang hanya hidup dengan cara menjual jagung masak, ” ungkap Salma.

Bayangkan saja tambahnya, keuntungan ya ng didapatkan dari hasil menjual jagung masak dengan modal kecil yang hanya berharap dari penumpang atau pengendara dari luar kota yang melintasi jalur poros Mangkoso, itupun puncaknya pada sore hari, dari masuk waktu magrib sampai jam 02 dini hari, dapat pembelian juga itu hanya sekitar 300 ribu, modalnya cukup besar menurut kami tapi untung kecil, tapi kami syukuri, tetapi jika ada musibah mati lampu begini, jangankan untung modalpun ikut mati lampu, karena pembeli tidak mau singgah, mungkin malas atau takut karena gelap akibat mati lampu.

“Tolong pak PLN nyalakan lampunya kasihan, jangan lama begini kasihan, kami mau jualan malam hari seperti biasa biar bisa makan anak – anak dirumah, ” pinta Salma.

Sekira satu jam meninggalkan Kab.Barru dari pantauan metrotimur.com saat memasuki Kota Pare – Pare, sejumlah toko yang ada di Jalan Lasinrang sibuk melayani para pemburu mesin genset. Dari keterangan Syahril (40) warga jalan Lasinrang, yang sempat ditemui disalah satu toko mesin genset di jalan Lasinrang, mengatakan, bahwa ia sengaja ingin membeli mesin genset, karena khawatir mati lampunya berkepanjangan.

“Saya terpaksa harus beli genset, khawatir saja, karena baru kali ini mati lampu sangat terasa dampaknya kepada usaha kami, pasalnya usaha kami itu modal utamanya adalah listrik, meskipun usaha saya itu bukan sifatnya industri, hanya kecil – kecilan, ” kata Syahril, kepada metrotimur.com, jum’at (16/11/18). (Ron).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top