banner-1

Politik

Koalisi Rakyat vs Koalisi Partai, Siapa Yang Berpeluang..? 

Makassar, metrotimur. com – Pertarungan pemilihan wali kota (Pilwalkot) Makassar telah dimulai, dipastikan hanya dua pasang bakal calon akan mengikuti konstestasi lima tahunan ini di Juni mendatang. Masing-masing bakal calon pasangan Moh Ramdhan “Danny” Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi) dan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

Kedua pasangan bakal calon ini secara resmi mendaftar ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar. Tinggal mengikuti tahapan selanjutnya hingga penetapan calon oleh KPU Makassar, 12 Februari akan datang.

Sementara, bakal calon pasangan Syamsu Rizal-Iqbal Djalil (DIAji) terpental karena tidak mencukupi partai pendukung sebagai syarat 10 kursi parlemen. Sampai saat ini mereka hanya didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), seluruh partai diboyong oleh Appi-Cicu melalui komunikasi elite politik.

Dengan demikian, kontestasi ini hanya diikuti oleh dua kekuatan besar (head to head), antara koalisi rakyat milik DIAmi yang menggunakan jalur perseorangan (independen) dan koalisi partai politik (parpol) milik Appi-Cicu.

Pengamat politik asal kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan kekuatan dua pasangan bakal calon ini untuk sementara berimbang.

“Kekuatan hampir berimbang, pertama karena posisinya head to head maka kita menghitung kekuatan yang dimiliki keduanya. Pak Danny itu dinilai sebagai wali kota yang berhasil, sehingga menjadi alasan masyarakat memilikinya kembali,” ujarnya kepada, Rabu (10/1/2018).

Sementara kekuatan Appi-Cicu hanya berada di koalisi partai gemuk. Itupun masih dinilai berbahaya lantaran adanya fenomena para kader partai pengusung yang menolak mendukung Appi-Cicu. Seperti, penolakan kader PDIP, PKS, dan PAN.

“Jadi kelebihan pak Danny lebih kepada kinerjanya, sementara Appi- Cicu dibekap banyak partai. Minus Appi-Cicu pengalaman birokrasi di pemerintahan tidaka ada. Akan beda kalau yang diusul itu Ical yang memiliki pengalaman di pemerintahan sementara Appi-Cicu itukan minus di birokrasi. Cicu hanya anggota dewan, kalau Appi background pengusaha,” terang Firdaus.

Baca juga :  Panwas Makassar Apresiasi Walikota Danny Pomanto Dalam Menjaga Netralitas Jajarannya

Akan tetapi, dia menilai kekuatan ini akan mengalami pergeseran perbandingan apalagi tahapan pemilihan baru saja akan dimulai. DIAmi kata Firdaus harus memaksimalkan kinerja infrastruktur partai pendukung seperti Demokrat, Perindo, PSI, dan yang lainnya.

Begitupun sebaliknya, kinerja partai pengusung Appi-Cicu harus lebih maksimal bekerja menghadapi kekuatan suara rakyat milik DIAmi.

“Pendaftaran di KPU kan sifatnya administratif, maka terpenting jangan sampai koalisi partai gemuk ini tidak membawa penumpangnya, artinya pak Danny berpeluang mendapat simpatik dari kader partai pengusung Appi-Cicu, bukan hanya PKS tapi partai lain,” terang Firdaus.

“Peluang pak Danny besar didukung kader partai, tentu kita melihat fenomena-fenomena yang terjadi, ada yang berani mengambil resiko politik mendukung pak Danny,” tutupnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top