banner-1

Makassar

Peneliti Perkotaan : Danny Cukup Peka Melihat Situasi

Foto Walikota Makassar Ir.Moh. Ramdhan Pomanto

Makassar,metrotimur.com – Makassar berhasil menurunkan trend kemiskinan di tahun 2015 menjadi 4,36 persen. Angka ini tercatat lebih rendah dari standar kemiskinan nasional yang masih bertengger di level 11,13 persen.

Dari data yang ada, warga miskin Kota Makassar di 2016 mencapai 63.240 jiwa. Grafik penurunan ini dipandang cukup signifikan dari dua tahun sebelumnya.

Tahun 2013, penduduk miskin Makassar masih berada di angka 66.400 jiwa, lalu turun menjadi 64.230 jiwa di 2014. Tahun 2015, atau setelah dua tahun masa pemerintahan Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto, angka itu kembali melorot ke level 63.240 jiwa.

Penurunan ini dipandang cukup positif. Paling tidak, pemerintah kota bisa secara perlahan memotong pertumbuhan angka kemiskinan, meski masih dalam populasi yang rendah.

“Trennya saya pikir sangat baik. Dalam dua tahun ada penurunan jumlah penduduk miskin 3.000 jiwa lebih. Dengan program yang lebih berpihak, jumlah ini bisa naik lebih signifikan dalam dua atau tiga tahun ke depan,” papar peneliti perkotaan dan penulis buku tinjauan antropologi, “Kota dan Suara Urbanisasi”, Hamidin Jamil, seperti yang dikutip Linksatu.com, Sabtu (15/4/2017).

Hamidin mengatakan, salah satu yang bisa memangkas populasi penduduk miskin adalah program yang berbasis kerakyatan. Di antaranya kata dia, program itu senantiasa bersentuhan dengan publik secara sosial, dan berefek ekonomi.

“Ada banyak proyek wali kota yang saya lihat berbasis publik. Seperti BULo, itu jelas sangat mendorong pendapatan perkapita masyarakat marginal karena sasarannya memang pada ekonomi kecil,” jelasnya.

Faktor lain adalah keberpihakan APBD pada rakyat. Postur APBD Makassar dalam dua tahun menurut Hamidin, cukup progresif. Terutama, sudah banyak program pengentasan kemiskinan dan peningkatan taraf hidup yang digulirkan.

Baca juga :  RW 1 Malimogan Tua Inginkan Danny "Oppo"

“Seperti program Kakilimata’ itu cukup produktif memperbaiki angka kemiskinan. Dalam konteks sosial ada kenaikan level para PKL, sehingga secara ekonomi pendapatan mereka juga lebih baik,” papar Hamidin.

Hamidin mengatakan, konsep pembangunan yang diperkenalkan Danny lebih berpihak pada rakyat kecil. Danny berani merintis perubahan dari masyarakat marginal, seperti di lorong-lorong.

Menurutnya, ini merupakan langkah positif dalam mengangkat harkat ekonomi sosial warga.

“Ini salah satu pendekatan agar kemiskinan bisa dipangkas. Kalau masyarakat marginal tidak dibentuk, maka ukuran kesejahteraan secara umum tetap akan timpang. Jadi parameternya itu di masyarakat kecil,” jelas dia.

Berdasarkan penelitian kata Hamidin, kemiskinan itu dipicu oleh kesenjangan sosial yang terjadi antara pemerintah dan rakyat.
Kesenjangan itulah yang membentuk kemiskinan struktural di masyarakat perkotaan.

Kemiskinan melahirkan banyak sisi negatif, seperti sentimen sosial, rapuhnya hubungan antarwarga, kriminalitas serta interaksi yang renggang di masyarakat. Kalau sebuah pemerintah gagal mengelola konflik ini, akan terjadi ledakan penduduk miskin di masa depan.

Tapi dengan program yang digulirkan Danny dari bawah kata Hamidin, bisa mencegah terjadinya faktor-faktor negatif itu. Ia melihat, cara pandang Danny dalam menyelesaikan persoalan kemiskinan lebih sistematis.

“Saya lihat Pak Danny cukup peka melihat situasi. Dia bisa menerjemahkan situasi di Makassar. Dia diangkat derajat ekonomi masyarakat kecil, sehingga secara otomatis, angka-angka kemiskinan bisa diturunkan,” imbuhnya(**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top