banner-1

Makassar

Problema “Waria” Diserang Tindakan Deskriminatif

“Waria” memang merupakan salah satu hal yang tabu diperbincangkan ditengah masyarakat umum. Bukan hanya itu, ditengah masyarakat lahir pikiran atau persepsi yang berbeda mengenai kelompok minoritas ini, ada yang mengatakan jika waria itu adalah orang-orang yang kreatif dalam mencari nafkah ada pula persepsi jika waria hanya segelintir orang-orang yang dianggap merusak lingkungan.

Sementara, suara minoritas ini juga diperhitungkan dalam pemilihan umum seperti masyarakat umum lainnya. Bahkan dalam Undang Undang Dasar 1945 telah menyatakan tentang kemerdekaan itu milik seluruh Warga Negara Indonesi.

Namun, bagaimana dengan kelompok Minoritas yang dinamai “Waria”? yang terus mendapatkan tindakan deskriminatif, cemohan hingga tak mendapatkan tempat ditengah kehidupan sosial dan agama. Padahal, menurut para pemerhati “Waria”, kelompok minoritas tersebut memiliki banyak bakat dan kreativitas, namun yang menjadi problema yang dihadapi mereka ialah prilaku yang dianggap menyimpang hingga dianggap perusak moralitas masyarakat.

Sebut saja Bunda Lin, salah seorang Waria asal Makassar yang terus memperjuangkan nasib para waria lainnya dalam kepulan tindakan deskriminatif dari oknum-oknum tertentu, Bunda Lin berasumsi, kelompok mereka banyak mendapat kecaman karena disebabkan prilaku segelintir waria yang tidak tau menempatkan diri mereka dalam berkehidupan sosial hingga terang-terang melakukan tindakan yang diluar pikiran logis banyak masyarakat, sehingga hal tersebut dianggap tabu.

Sesepuh waria se Indonesia, Haji Ida Hamid menepis persepsi-persepsi negatif dalam mini workshop yang bertema “Dukungan Jurnalis Kepada Kelompok Waria” yang digelar Hotel Banua, jalan Haji Bau, Makassar, Jumat (9/9/16) mengungkapkan, bahwa selama ini permasalahan yang dialami oleh kelompok minoritas waria ialah persoalan sosial dan deskriminatif, sehingga menyebabkan adanya ketidak adilan terhadap kaum minoritas di lingkungan mereka tempati tinggal.

Baca juga :  Wali Kota Pantau Langsung Klenteng

“Persoalan utama yang terus dihadapi oleh kelompok kami “waria” ialah adanya tindakan deskriminatif ditengah kehidupan sosial yang membatasi ruang geraka kami sebagai warga negara Indonesia yang patuh terhadap Undang-Undang. Dalam work shop ini saya selaku sesepuh waria se Indonesia, berharap masyarakat dapat menerima kekurangan dan kelebihan kami, namun saya juga meminta kepada kelompok waria agar menjaga perilaku di tengah masyarakat umum,”jelasnya.

Menurutnya, banyak waria yang memiliki potensi dan bakat besar, dia berharap agar Pemerintah Kota dan Pemerintah Pusat dapat pula memperhatikan kelompok minoritas waria yang ingin melakukan kegiatan positif, tanpa ada tindakan deskriminatif.

Sementara itu, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar berharap agar para waria yang ada di Kota Makassar mengambil peran dan bagian dalam membangun Kota menjadi dua kali tambah baik. Hal ini ditegaskan oleh La Heru dari Dinas Sosial Kota Makassar saat berbicara dalam konsilidasi internal dan rapat kerja Kerukunan Waria Makassar (KWRM). Laheru menegaskan bahwa selama waria memiliki identitas berupa kartu tanda penduduk maka mereka merupakan warga makassar yang memiliki hak yang sama dengan warga lainnya.

“kita memiliki status yang sama dengan waria dihadapan aturan dan undang-undang dan hak kewajiban yang sama. Yang harus memiliki identitas seperti kartu tanda penduduk. Karena itu waria harus memiliki atau terdaftar nomor induk penduduk,” ujarnya.(*)

Penulis: Nugrah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top