banner-1

Nasional

Stop..!! “Jalur Hijau ” Jangan Jatuh Ditangan Kapitalis

Lahan Jalur Hijau Manggala Makassar

Makassar, metrotimur.com – Pembangunan kota terus diarahkan menuju kemodernan. Gedung-gedung pencakar langit yang megah seperti pusat-pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran semakin gencar memenuhi kepadatan kota. Kota Metropolitan, begitulah sebutannya. Tak hanya itu, peningkatan jumlah kendaraan yang memenuhi jalanan kota semakin tak dapat dihentikan. Belum lagi pemukiman penduduk yang memadati setiap sudut kota. Hal ini tentu berdampak buruk bagi lingkungan terlebih manusia yang tinggal di dalamnya.

Bayangkan saja, untuk membangun gedung-gedung pencakar langit, pusat-pusat perbelanjaan, penyediaan jalan dan permukiman penduduk membutuhkan tanah yang sangat luas. Hal ini mengakibatkan banyak lahan yang digarap sehingga berdampak pada pemanasan global dengan adanya aksi penebangan pohon-pohon, polusi yang meningkat dari gas buangan kendaraan bermotor yang tak dapat dicegah, hilangnya keanekaragaman hayati, banjir di mana-mana karena hilangnya daerah resapan air bahkan mengganggu kesehatan penduduk di sekitarnya. Untuk itulah, ruang hijau sangat diperlukan bahkan sudah menjadi suatu syarat dalam pembangunan sebuah kota.

Jalur hijau, adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang pengawasan jalan (RUWASJA). Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau.

Beberapa fungsi jalur hijau yaitu sebagai penyegar udara, peredam kebisingan, mengurangi pencemaran polusi kendaraan, perlindungan bagi pejalan kaki dari hujan dan sengatan matahari, pembentuk citra kota, dan mengurangi peningkatan suhu udara. Selain itu, akar pepohonan dapat menyerap air hujan sebagai cadangan airtanah dan dapat menetralisir limbah yang dihasilkan dari aktivitas perkotaan.

Menurut Ketua Yayasan Garuda Indonesia dan Rumah Balada Indonesia, Ully Sigar Rusadi, “Menjaga lingkungan hidup bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya menjaga tetapi menyelamatkan sumber – sumber kehidupan itu dari tangan – tangan kapitalis yang tidak memikirkan dampak kepada anak cucu kita, Sala satunya adalah menyelamatkan ruang terbuka hijau, ” kata Bunda Ully.

Baca juga :  KPU Makassar Bungkam, Hasil Pleno Tak Bisa Ditunjukkan

Selama tiga puluh tahun kami berjuang untuk menemukan mata air dibeberapa wilayah di Indonesia hanya dengan menanam pohon sumber kehidupan itu muncul. Menurut Bunda Ully, Indonesia separuh mata air Indonesia kini sudah jatuh di tangan – tangan kelompok kapitalis, sebagian rakyat indonesia harus terjajah, harus mengocek kantong untuk mendapatkan air bersih, lalu kemana harta yang tak bernilai itu yang merupakan hak rakyat dan menjadi sumber kehidupan kita semua, tak lain dan tak bukan karena pemerintah tidak mampu menjaga dan mengatur kemudian tidak memikirkan masa depan anak – anak bangsa, terang Bunda Sigar Rusady, di Hotel Aerotel Jalan Muh. Luthfi Makassar, Sabtu (11/11/17).

Melalui road show Yayasan Garuda Indonesia (YGI) dan Rumah Balada Indonesia (RBI) di Sulawesi Selatan, Kedua lembaga pemerhati lingkungan hidup nasional tersebut sangat mengapresiasi upaya Walikota Makassar, Ir. Moh. Ramdhan Pomanto atas kepedulian dan pemikirannya yang tertuang dalam sebuah program untuk kepentingan kehidupan rakyatnya yang berkelanjutan.

“Kami sangat mengapresiasi upaya Danny Pomanto dalam menyelamatkan sumber kehidupan rakyatnya dengan konsep penghijaun seperti Lorong Garden dan penanaman pohon dan tak kalah simpatinya kami adalah upaya – upayanya dalam menyelamatkan ruang terbuka hijau juga taman – taman kota yang secara sah adalah milik rakyat yang sekarang sebagian telah beralih fungsi, ” Ungkap Bunda Ully.

Bunda Ully yang juga merupakan Sutradara Film My Journey ” Mencar Mata Air ” mengatakan, “Sumber Mata Air itu bukan hanya ditengah hutan tetapi Mata Air itu ada ditengah kota metropolitan seperti kota Makassar. Saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk berjuang bersama – sama menyelamatkan sumber kelangsungan kehidupan itu yang sebagian sudah terlupakan akibat ulah para kelompok – kelompok (Kapitalis) yang tidak memikirkan masa depan anak cucu kita, ” kata Bunda Ully.

Baca juga :  IGI Salurkan Bantuan Korban Gempa Aceh

Bunda Ully menambahkan, “Kami juga mengajak kepada teman – teman media untuk menjadi garda terdepan menyampaikan pesan moral ini kepenjuru tanah pertiwi ini, bahwa menyelamatkan sumber kehidupan (air dan pohon) itu adalah tanggung jawab kita bersama bukan hanya bertumpuh kepada Pemerintah saja, mari kita temukan mata air itu dengan menanam pohon dan jangan biarkan mata air itu berubah menjadi mata air,” tambahnya. (Ron)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top