Makassar, metrotimur.com – Kota Makassar merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi selatan yang lagi menuju perkembangan yang sangat pesat. Setiap kota besar khususnya ibu kota seperti kota Makassar mempunyai daya tarik bagi para masyarakat dari tempat lain untuk mencari hidup. Hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan penduduk di kota Makassar, Dengan padatnya jumlah penduduk di kota Makassar yang pesat menyebabkan terjadinya hunian-hunian yang ilegal dan padat. Dengan padatnya penduduk menyebabkan konsumsi masyarakat semakin tinggi. Konsumsi masyarakat yang semakin tinggi berbanding lurus dengan komposisi sampah yang ikut meningkat, Makassar, sabtu (6/5/17).
Belum lagi perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Sampah dikota Makassar merupakan isu yang sangat penting. Sampah dikota Makassar menjadi masalah yang sangat penting untuk diperhatikan pengelolahannya. Setiap pengelolahan yang baik dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat maupun lingkungannya.
Sampah di Kota Makassar sudah mulai membaik dalam proses pengangkutan dan pembuangannya dan pengelolahannya sudah mulai tertata dengan baik, salah satu inovasi Pemkot Makassar dengan menciptakan Bank sampah. Sampah yang dibuang oleh masyarakat di perkotaan dapat digolongkan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang mudah diurai oleh lingkungan sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang membutuhkan waktu yang lama untuk diurai oleh lingkungan.
Berikut ini ada beberapa contoh sampah organik adalah daun, kulit-kulit buah, dan sampah sayur-sayuran sedangkan sampah anorganik adalah besi, kaleng, dan plastik. Pada umumnya di kota Makassar sampah banyak bersumber dari perumahan warga dan pasar. Pengelolaan sampah di Kota Makassar tidak lepas dari dukungan masyarakat yang berada disekitarnya. Masyarakat merupakan pemangku tertinggi yang sangat memegang peran vital dalam mewujudkan kebersihan lingkungan di Kota Makassar.
Selama penjemputan hingga pembuangan sampah yang dilakukan oleh dinas terkait terlihat berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari truk-truk sampah, Viar atau fukuda setiap pagi dan sore datang menjemput sampah pada titik-titik tempat pembuangan sampah bahkan sampai kelorong – lorong. Kemudian sampah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun sampai kapan sampah akan terus dibuang dan berapa banyak lagi sampah yang akan ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Jika sampah ditampung dan dibakar sama halnya dengan mencemari lingkungan cuma wujudnya yang berbeda dari pencemar padat menjadi gas yang mencemari udara. Belum lagi jika tidak ada alternatif lain dalam mengurangi volume sampah dan pengelolahan sampah maka dengan kata lain masyarakat dilarang membuang sampah sedangkan pemerintah masih membuang sampah hanya lokasinya bentuknya yang berbeda.
Masyarakat merupakan aktor penting dalam pengelolaan sampah. Untuk mengelolah sampah yang perlu tanamkan adalah paradigma/cara berpikir, manfaat sampah, dan pendidikan usia dini di lingkungan rumah maupun sekolah dalam menghargai dan mengelolah sampah. Perilaku membuang sampah sebenarnya kembali kepada setiap indvidu yang terbawa dari cara berpikirnya mengenai sampah.
Sampah sering dilihat sebagai sesuatu yang kotor dan tidak berguna. Paradigma/cara berpikir seperti ini yang sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat.
Solusinya:mengacu kepada kata kiasan “ sesuatu yang sangat berharga tidak akan dibuang”. Yang kedua adalah kita harus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Kita kembali ke awal lagi bahwa sampah ada dua jenis yang dapat dikelolah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Misalnya; sampah anorganik dapat dikelola menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi, seperti sampah plastik yang dapat dibuat tas, sepatu, pot bunga dan sebagainya.
Sampah anorganik mampunyai nilai ekonomi yang tinggi. Hal ini dapat membawa pesan positif bagi masyarakat dan juga dapat membuka lapangan kerja dan pendapatan bagi masyarakat. sebanarnya mungkin ada masyarakat juga yang sudah mengelolah sampah menjadi bahan yang berguna tetapi belum dilirik oleh pemerintah dan juga belum ada wadah dan teknologi yang tepat untuk melatih masyarakat.
Intinya adalah bagaimana kita merubah paradigma negatif masyarakat terhadap sampah. Jangankan sampah plastik, kaleng pun sangat berat dibuang karena sangat berharga sebab mempunyai nilai ekonomi bagi mereka. Kemudian sampah organik lebih mudahnya dapat dibuat kompos sederhana. Hal ini bisa dimulai dari tingkat RT.
Disetiap RT disediakan tempat penampungan sampah organik untuk pembuatan pupuk organik. Kemudian ketika pupuk itu telah jadi, dapat didistribusikan kesekitar RT tersebut untuk menata lingkungannya. Untuk menjalankan program tersebut, sebelumnya pemerintah sudah mengadakan pelatihan pembuatan kompos bagi aparatnya ditingkat bawah seperti tingkatan RT untuk melatih masyarakatnya.
Dengan melakukan aksi-aksi nyata seperti ini masyarakat mendapat banyak manfaat dan secara tidak langsung masyarakat dapat menghargai lingkungannya sendiri.
Yang ketiga adalah pendidikan dilingkungan sekolah dan rumah. Di lingkungan sekolah, pemerintah kota dapat menyisipkan suatu mata pelajaran/ekstrakurikuler bagi siswa mulai ditingkat taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA untuk mengenal manfaat sampah disekitar mereka. Dengan bagaimana membuat dan mengelolah sampah itu menjadi bahan yang berguna/ mempunyai nilai ekonomi.
Pertanyaannya mengapa musti dari anak-anak?, jawabannya : karena kebiasaan dan cara berpikir mereka masih belum tercemar dan dapat diarahkan dari usia dini untuk memahami kebersihan lingkungan.
Di lingkungan rumah, pemahaman dan pengetahuan yang baik bisa ditanamkan dalam menghargai lingkungannya sendiri. Orang tua memegang peran penting untuk memberi gambaran akan manfaat dan nilai dari sampah itu sendiri.
Dalam penulisan ini, penulis sangat mendukung himbauan dan usaha Walikota Makassar untuk menjaga kebersihan dan keindahan kota Makassar. Namun disamping itu penulis menyarankan kepada pemerintah kota Makassar jangan hanya memasang himbauan yang bertuliskan “jangan membuang sampah” dan sanksi yang akan diberikan tetapi lebih bijaknya pasang himbauan iklan mengenai “manfaat sampah bagi kita”. Dan juga dapat mencari alternatif dengan berbagai pihak untuk mengelolah sampah. Hal ini dapat dimulai dari diri kita, keluarga dan lingkungan pendidikan. Ini mungkin sedikit saran untuk membantu program pemerintah Kota Makassar. Untuk dapat mencapai tujuan itu maka perlu kerja sama semua pihak (Pemerintah, Swasta, LSM dan Masyarakat). ( Ron)




Tinggalkan Balasan