
Mashud Azikin
metrotimur.com, Makassar – Di panggung seminar, mimbar demonstrasi, studio podcast, ruang sidang parlemen, sampai layar televisi, suara mereka terdengar lantang. Gagasan tampak tajam. Retorika mengalir. Tepuk tangan pun datang.
Tetapi ada pemandangan yang agak lucu sekaligus menggelisahkan.
Begitu diminta menuliskan gagasan itu menjadi artikel opini 800 kata, tiba-tiba suasana berubah. Ada yang berkata, “Nanti saja.” Ada yang meminta waktu. Ada pula yang buru-buru menunjuk orang lain.
Seolah-olah pena adalah benda yang lebih menakutkan daripada mikrofon.
Mengapa orang yang begitu percaya diri berbicara di depan ratusan orang bisa mendadak gugup ketika berhadapan dengan selembar kertas kosong?
Barangkali karena mikrofon memungkinkan kita berbicara lebih cepat daripada berpikir. Sedangkan tulisan memaksa kita berpikir sebelum berbicara.
Di situlah persoalannya.

Ketika Suara Lebih Nyaring daripada Pikiran
Kita hidup dalam zaman yang sangat menyukai suara.
Orang yang paling sering muncul dianggap paling aktif. Orang yang paling keras berbicara dianggap paling berani. Orang yang viral dianggap paling penting.
Media sosial bahkan mengubah satu menit bicara menjadi ukuran popularitas.
Padahal popularitas dan kedalaman pikiran adalah dua perkara yang berbeda.
Berbicara di depan umum memang membutuhkan keberanian. Tetapi menulis membutuhkan keberanian yang lain: keberanian untuk diperiksa.
Ketika berbicara, kita bisa menggunakan intonasi, ekspresi wajah, humor, bahkan emosi untuk meyakinkan orang. Ketika menulis, semua itu hilang. Yang tersisa adalah argumen.
Kalimat harus jelas. Data harus benar. Logika harus nyambung. Kesimpulan harus bisa dipertanggungjawabkan.
Dan yang paling menyebalkan bagi sebagian orang: tulisan bisa dibaca berulang-ulang.
Satu kalimat yang keliru hari ini bisa ditemukan pembaca sepuluh tahun kemudian.
Mikrofon selesai ketika listrik dimatikan. Tulisan tidak selalu selesai ketika penulis menutup laptop.
Ia bisa hidup lebih lama daripada penulisnya.
Dari Budaya Orasi ke Budaya Klip
Masalahnya, kita sedang hidup dalam ekonomi perhatian.
Orang tidak lagi hanya mencari gagasan. Mereka mencari potongan gagasan yang mudah dibagikan.
Satu pernyataan 30 detik bisa mendapatkan ribuan penonton. Sebuah artikel yang ditulis setelah membaca belasan referensi mungkin hanya mendapatkan beberapa ratus pembaca.
Akibatnya, banyak orang akhirnya belajar bahwa yang penting bukan selalu apa yang dipikirkan, melainkan seberapa sering dirinya terlihat.
Kita pun perlahan membangun budaya soundbite: politik dalam potongan kalimat, aktivisme dalam potongan video, intelektualitas dalam potongan kutipan.
Tidak salah berbicara singkat. Yang berbahaya adalah ketika seluruh pikiran kita ikut menjadi singkat.
Di sinilah menulis menjadi penting.
Menulis memaksa seseorang berhenti sejenak dari kebisingan. Ia meminta kita duduk, membaca, berpikir, menyusun, menghapus, lalu menyusun kembali.

Menulis adalah pekerjaan yang tidak terlalu cocok dengan budaya serba cepat.
Mungkin itu sebabnya ia semakin penting.
Aktivis yang Rajin Berteriak, Tetapi Malas Mendokumentasikan
Dalam banyak gerakan sosial, kita menemukan fenomena yang sama.
Ada aktivis yang sangat piawai mengkritik pemerintah, perusahaan, bahkan masyarakat. Tetapi ketika diminta menyusun policy brief, kajian, atau artikel opini, tiba-tiba energinya menguap.
Padahal kritik yang tidak terdokumentasi mudah hilang bersama pergantian isu.
Gerakan sosial membutuhkan lebih dari sekadar keberanian turun ke jalan. Ia membutuhkan pengetahuan yang diwariskan.
Demikian pula organisasi masyarakat.
Kalau semua gagasan hanya tersimpan di kepala ketua, maka ketika ketuanya pergi, organisasinya ikut kehilangan ingatan.
Dokumen, artikel, buku, laporan dan catatan kebijakan adalah memori sebuah gerakan.
Karena itu, aktivisme yang matang bukan hanya pandai membuat kerumunan.
Ia juga pandai meninggalkan pengetahuan.
Politisi dan Godaan Kalimat Aman
Di dunia politik, persoalannya bahkan lebih rumit.
Politisi hidup dalam ruang yang penuh risiko. Satu kalimat bisa menjadi berita. Satu paragraf bisa menjadi bahan serangan lawan.
Karena itu, banyak politisi lebih nyaman berbicara secara spontan.
Jika pernyataannya dianggap keliru, masih ada ruang untuk mengatakan, “Maksud saya bukan begitu.”
Tulisan tidak memberikan kemewahan yang sama.
Tulisan membuat posisi seseorang lebih jelas.
Itulah sebabnya sebagian politisi lebih suka berbicara tentang perubahan daripada menulis bagaimana perubahan itu akan dilakukan.
Lebih mudah mengatakan, “Kita harus meningkatkan kesejahteraan rakyat,” daripada menjelaskan dari mana anggarannya, siapa yang menjalankan, berapa targetnya, bagaimana mengukurnya, dan apa risikonya.
Kalimat pertama memperoleh tepuk tangan.
Kalimat kedua membutuhkan kerja.
Politik akhirnya berisiko berubah menjadi industri tepuk tangan.
Padahal demokrasi seharusnya menjadi industri gagasan.
Kampus Pun Tidak Sepenuhnya Bebas
Dunia akademik juga memiliki paradoksnya sendiri.
Kampus sangat menghargai tulisan ilmiah. Itu tentu penting. Tetapi tidak semua pengetahuan harus berhenti di jurnal.
Ada pengetahuan yang harus turun ke masyarakat.
Seorang akademisi yang menemukan solusi penting bagi persoalan lingkungan, misalnya, tidak cukup hanya menuliskannya dalam jurnal yang dibaca segelintir orang. Pengetahuan itu perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang dapat dipahami warga, pemerintah, komunitas dan pembuat kebijakan.

Ilmu yang tidak pernah keluar dari menara gading berisiko menjadi pengetahuan yang kehilangan masyarakat.
Sebaliknya, opini populer tanpa dasar ilmiah juga berbahaya.
Karena itu, yang kita perlukan bukan memilih antara ilmu dan popularitas, melainkan menjembatani keduanya.
Kita Membutuhkan Intelektual yang Meninggalkan Jejak
Indonesia pernah memiliki tradisi intelektual yang kuat.
Soekarno bukan hanya seorang orator. Hatta bukan hanya seorang negarawan. Sjahrir bukan hanya seorang politisi. Tan Malaka bukan hanya seorang aktivis.
Mereka meninggalkan tulisan.
Kita masih bisa membaca pikiran mereka karena gagasan mereka tidak berhenti di podium.
Buku, artikel, pamflet dan surat-surat mereka menjadi semacam percakapan lintas generasi.
Itulah kekuatan tulisan.
Seorang manusia bisa meninggal. Sebuah suara bisa menghilang. Tetapi gagasan yang ditulis dengan baik dapat menemukan pembacanya jauh setelah penulisnya tidak lagi berada di dunia.
Maka, ukuran seorang intelektual seharusnya bukan berapa kali ia tampil di televisi.
Ukuran seorang aktivis bukan berapa banyak foto demonstrasinya.
Ukuran seorang politisi bukan berapa panjang tepuk tangan setelah pidatonya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang ia tinggalkan setelah panggung dibongkar?
Dari Mimbar ke Lembar
Karena itu, kita perlu menghidupkan kembali budaya menulis.
Organisasi bisa memulai dari hal sederhana: sebelum seorang kader tampil sebagai narasumber, mintalah ia menyiapkan satu halaman briefing paper.
Partai politik dapat membiasakan legislator menulis gagasan kebijakan, bukan sekadar pernyataan politik.
Kampus dapat memberi ruang lebih besar bagi dosen dan mahasiswa untuk menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi tulisan yang dapat dibaca masyarakat.
Media juga dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan publik.
Bagi mereka yang mempunyai gagasan tetapi kesulitan menulis, tidak ada salahnya bekerja dengan editor, peneliti atau co-writer. Yang penting bukan siapa yang mengetik kalimat pertama, melainkan apakah gagasan tersebut benar-benar berasal dari pemilik pikiran dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab menulis bukan perlombaan menjadi sastrawan.
Menulis adalah latihan mempertanggungjawabkan pikiran.
Dan mungkin sudah waktunya kita berhenti terlalu kagum kepada orang yang pandai berbicara.
Sesekali, lihatlah apa yang ia tulis.
Sebab di depan mikrofon, seseorang bisa menjadi siapa saja.
Tetapi di hadapan kertas, ia harus berhadapan dengan pikirannya sendiri.
Di sanalah intelektualitas diuji.
Di sanalah keberanian menemukan bentuknya.
Dan di sanalah sebuah gagasan memperoleh kesempatan untuk hidup lebih lama daripada tepuk tangan.
Panggung melahirkan popularitas. Pena meninggalkan peradaban.(*)



Tinggalkan Balasan