Di Balik Macetnya Makassar: Pasar Tumpah Jadi Nafas Terakhir Ekonomi Jelang Lebaran

Posted by

MAKASSAR, metrotimur.com – Menjelang detik-detik akhir Ramadan, denyut Kota Makassar seakan berubah irama. Sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri, ruang-ruang jalan yang biasanya menjadi jalur mobilitas, kini menjelma menjadi lautan manusia dan lapak dadakan.

Pasar tumpah kembali hadir—bukan sekadar fenomena tahunan, tetapi sebuah peristiwa sosial yang selalu menyisakan cerita, harapan, sekaligus polemik.

Di sepanjang Jembatan Bawakaraeng hingga kawasan Pasar Pabaeng-baeng, arus kendaraan melambat, bahkan nyaris terhenti pada jam-jam tertentu. Bahu jalan tak lagi cukup menampung aktivitas jual beli, hingga badan jalan pun “dipinjam” demi mengakomodasi lonjakan pedagang dan pembeli.

Situasi serupa juga tampak di Pasar Terong, Pasar Sentral Makassar, Pasar Cendrawasih, hingga kawasan Pasar Senggol—semuanya dipadati masyarakat yang berburu kebutuhan lebaran.

Di satu sisi, kondisi ini kerap memantik keluhan. Kemacetan yang mengular, waktu tempuh yang membengkak, hingga ketertiban kota yang terasa “ditanggalkan sementara” menjadi sorotan tahunan. Namun di sisi lain, pasar tumpah justru menjadi panggung ekonomi rakyat kecil—ruang hidup yang hanya terbuka singkat, tetapi sangat berarti.

Lapak-lapak sederhana berdiri berderet, menjajakan aneka kebutuhan: pakaian baru untuk hari kemenangan, kue kering khas lebaran, hingga makanan siap saji yang menggoda di tengah hiruk pikuk suasana. Di balik kesemrawutan yang tampak, ada denyut transaksi yang begitu hidup—tawar-menawar, senyum pembeli, dan harapan yang disematkan di setiap barang yang terjual.

Anti, salah satu pedagang kaki lima musiman di kawasan Pasar Sentral Makassar, menjadi bagian dari riuhnya fenomena ini. Dengan wajah penuh harap, ia mengaku momentum ini adalah kesempatan yang tak tergantikan.

“Alhamdulillah, ini memang momen yang kami tunggu. Pembeli ramai sekali menjelang lebaran, jadi kami bisa menambah penghasilan untuk kebutuhan keluarga,” tuturnya, Rabu (18/03/2026).

Kesadaran akan dampak yang ditimbulkan pun tak sepenuhnya luput dari para pedagang. Mereka memahami bahwa keberadaan pasar tumpah seringkali bersinggungan dengan kepentingan pengguna jalan. Namun, di tengah keterbatasan, upaya menjaga ketertiban tetap dilakukan.

“Kami berusaha tetap tertib dan jaga kebersihan. Biasanya setelah malam takbiran, kami langsung bongkar lapak supaya jalan kembali normal,” tambahnya.

Fenomena pasar tumpah sejatinya adalah potret paradoks kota: antara kebutuhan akan keteraturan dan dorongan ekonomi masyarakat kecil. Ia hadir sebagai “ruang kompromi” yang tak tertulis—di mana kemacetan seakan ditoleransi, demi memberi tempat bagi roda ekonomi rakyat berputar lebih kencang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pasar tumpah akan perlahan menghilang setelah gema takbir berkumandang. Jalanan akan kembali lengang, trotoar kembali pada fungsinya, dan kota kembali tertib seperti sediakala.

Namun yang tersisa bukan hanya kenangan kemacetan, melainkan jejak perjuangan. Bahwa di balik padatnya jalan dan riuhnya pasar, ada ribuan harapan yang sempat menggantung—dan sebagian berhasil diwujudkan—di penghujung bulan suci Ramadan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *