,

Golkar dan Seni Mendengar

Posted by

Oleh : Mashud Azikin, Kader Golkar

Makassar, metrotimur.com – Dalam politik, kekalahan tidak selalu lahir dari ketiadaan kader, logistik, atau jaringan. Ia sering kali justru bersumber dari sesuatu yang lebih subtil: cara memimpin. Golkar, sebagai partai dengan sejarah panjang dan struktur yang matang, sesungguhnya tidak pernah miskin sumber daya manusia. Yang kerap dipersoalkan bukan siapa yang ada di dalamnya, melainkan bagaimana mereka diarahkan.

 

Login Golkar—masuk ke dalam rumah besar kekaryaan—sejatinya adalah memasuki sebuah tradisi politik rasional. Tradisi yang dibangun di atas kerja, disiplin, dan kesetiaan pada proses. Namun tradisi, bila tidak dirawat dengan kepemimpinan yang jernih, bisa berubah menjadi rutinitas kosong.

 

Di titik inilah Golkar bisa kalah: bukan karena kadernya lemah, melainkan karena kepemimpinan yang gagal membaca denyut internal dan suara di luar pagar kekuasaan.

 

Politik yang matang bukanlah politik yang steril dari kritik. Justru sebaliknya, ia hidup dari kritik yang jujur dan argumentatif. Kritik adalah alarm, bukan ancaman.

Ketika alarm dimatikan karena dianggap mengganggu kenyamanan elite, yang terjadi bukan ketenangan, melainkan kelalaian kolektif. Golkar, dengan pengalaman panjangnya, seharusnya memahami ini lebih baik dari siapa pun.

 

Kader Golkar tersebar dari pusat hingga pelosok, dari ruang parlemen hingga lorong-lorong sosial masyarakat. Mereka menyerap aspirasi, kegelisahan, bahkan kekecewaan publik secara langsung.

Jika suara-suara itu berhenti di tingkat bawah karena tidak menemukan telinga yang mau mendengar di atas, maka sesungguhnya yang terputus bukan hanya komunikasi, tetapi juga kepercayaan.

 

Kepemimpinan politik bukan soal siapa yang paling kuat memerintah, melainkan siapa yang paling mampu menampung.

 

Menampung perbedaan pandangan, menampung kritik internal, dan menampung realitas sosial yang terus berubah. Golkar tidak kekurangan tokoh yang cerdas dan berpengalaman. Yang dibutuhkan adalah keberanian moral untuk mendengar, bahkan ketika suara itu tidak menyenangkan.

 

Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa partai besar jarang runtuh karena serangan eksternal semata. Mereka goyah ketika jarak antara pemimpin dan kader, antara elite dan basis, makin melebar. Dalam jarak itulah lahir apatisme, fragmentasi, dan akhirnya kekalahan yang terasa ironis.

 

Maka refleksi ini menjadi penting: Golkar akan tetap relevan bukan karena usianya yang panjang, tetapi karena kemampuannya memperbarui cara memimpin. Politik kekaryaan harus kembali pada makna dasarnya—kerja kolektif yang rasional, terbuka, dan berani bercermin. Bukan politik yang alergi kritik, melainkan politik yang menjadikannya sebagai bahan bakar kedewasaan.

Di sanalah kemenangan sejati bermula. Bukan di baliho, bukan di podium, tetapi di ruang sunyi tempat seorang pemimpin mau berhenti sejenak, lalu berkata: mari kita dengarkan. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *