Sawedi Muhammad Numpang Tenar Dalam Konsep Kereta Api Elevated Danny Pomanto

Posted by

MAKASSAR, METROTIMUR.COM  – Pare pare dengan menggunakan teori interaksi simbolik tidak terlalu relevan dan terlebih menyederhanakan motif terhadap kritik Danny Pomanto sebagai upaya pencitraan semata.

Perlu dipahami bahwa teori interaksi simbolik adalah teori yang masih samar-samar, hal ini sejalan dengan pernyataan Ian Ernest Craib seorang pakar sosiologi inggris. Craib bahkan menambahkan bawa teori tersebut hanya menilai manusia semata-mata dari sudut kognitif saja, sehingga apa yang Danny Pomanto pikirkan seolah-olah orang lain sudah mengetahuinya hanya melalui tafsir, sedangkan setiap manusia memiliki emosi karakter yang berbeda-beda, apalagi Sawedi Muhammad juga hanya memahami makna namun masih dangkal, seolah-olah dia yang lebih paham tentang tata ruang Kota membaca teks dari kritik Danny Pomanto memalui media sosial.

Simbol dalam kajian interaksi simbolik bukan merupakan faktor yang telah terjadi atau semacam surat yang utuh yang ketika dibuka maka kita menemukan makna bersama atau objektif, sehingga dapat dikatakan makna Sawedi Muhammad belum tentu sama dengan makna yang ingin disampaikan oleh Danny Pomanto, ataupun makna yang dipahami semua orang.

Dalam tulisannya di media daring Detik, Dosen sosiologi tersebut juga menampilkan Danny Pomanto sebagai sosok yang serakah dengan menuliskan “Ia (Danny Pomanto) ingin dilibatkan baik dalam proses penentuan desain, sosialisasi Amdal, penetapan lokasi dan juga pengoperasian kereta api. Wali Kota ingin menegaskan bahwa seluruh proses komunikasi proyek kereta api harus melibatkan pemerintah Kota Makassar”. Hal ini yang tentu tidak pernah terucap dari mulut Danny Pomanto, dan justru Sawedi Muhammad berupaya menampilkan sosok Danny Pomanto sebagai sosok yang serakah.

Dalam perspektif kebijakan publik, Danny Pomanto justru ingin menunjukkan dampak lingkungan yang secara langsung dapat dirasakan warga Kota Makassar dalam kapasitasnya sebagai Wali kota Makassar. Kritik Danny Pomanto seharusnya dipandang sebagai diskursus baru yang memperlihatkan dampak buruk yang kemungkinan besar akan terjadi ke depannya.

Meski belum ada kebijakan yang strategis dalam mengatasi banjir di Makassar tetapi hal tersebut bukan berarti Danny Pomanto tidak melakukan apa-apa dalam upaya menangani banjir di Makassar, sebagai contoh baru-baru ini kunjungan studi Danny ke beberapa negara maju justru ingin melihat secara holistik strategi yang tepat untuk membangun irigasi tau dreinase dalam mengatasi banjir, hal ini justru menunjukkan bahwa Danny Pomanto tidak tergesah-gesah dalam mengambil keputusan dalam hal kebijakan publik, dan mempertimbangkan studi yang tepat untuk Kota Makassar 2 kali tambah baik.

Ibnu hadjar yusuf.S.Sos.,M.I.Kom Dosen Sosiologi Komunikasi UIN Alauddin Makassar,.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *