MAKASSAR, METROTIMUR.COM – Plt Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar, Iskandar Lewa terus berupaya dengan berbagai inovasi baru untuk membuat masyarakat yang selama ini hidup di jalanan, para tuna susila dan waria agar lebih mandiri dengan menghadirkan wadah yang disebut Lingkungan Pondok Sosial (Liposos).
Hal itu disampaikan Iskandar Lewa usai melakukan razia penyakit masyarakat bersama denga tim terpadu disejumlah titik di Kota Makassar, senin dini hari (31/12/18). Dia pun menyampaikan jika membina masyarakat gepeng dan anjal termasuk para Pekerja seks bebas dan waria bukan hal mudah.
Karena sebelum pola pikir mereka berubah dan masih tergantung hidup di jalanan, dan para pekerja seks bebas tersebut masih bergantung bahkan menjadi profesi bagi mereka, maka akan susah untuk mereka menjadi lebih mandiri lagi. Maka, langkah utama yang jarus dilakukan adalah merubah pola pikir mereka.
“Merubah pola pikir atau sebuah pemahaman tentu kunci jawabannya adalah solusi, seperti Gepeng dan anjal terkhusus lagi para pekerja seks bebas, untuk merubah maka perlu wadah atau ruang pembinaan dan pembekalan untuk menjadi mandiri dan lebih terhormat lagi, ” kata Iskandar Lewa, senin (31/12/18).
Solusi bagi Iskandar Lewa yang diamanahkan oleh Wali Kota Makassar, Danny Pomanto untuk mengendalikan Dinas Sosial Makassar dengan jabatan Sekretaris sekaligus sebagai Plt Dinsos Makassar baru – baru ini pada pelantikan pejabat Pemkot Makassar di Central Point Of Indonesia. Ia merujuk kepada LIPOSOS, bagi Iskandar Lewa, LIPOSOS kependekan dari Lingkungan Pondok Sosial, yang merupakan tempat penampungan atau tempat tinggal bagi penghuni yang memiliki latar belakang pengemis, anak jalanan dan tuna wisma adalah solusi yang tepat.
Menurut Iskandar Lewa Liposos sendiri merupakan binaan dari Departemen Sosial. Tujuan dibentuknya LIPOSOS ini sendiri untuk mengurangi angka kemiskinan dan kuantitas pengemis dan tuna wisma. Di bawah binaan Departemen Sosial, mereka yang memenuhi kriteria di atas mendapatkan binaan untuk dapat menghasilkan uang tanpa mengemis, hidup dijalanan ataupun bekerja sebagai kupu – kupu malam (PSK).
Menurut Iskandar Lewa, bayangan terciptanya ruang pembinaan itu (LIPOSOS) untuk para Gepeng, anjal ataupun para pekerja seks bebas, Pemkot Makassar dibawah kepemimpinan Danny Pomanto, LIPOSOS akan menjadi fokus sebagai solusi dalam penanganan para pekerja hidup yang menggantungkan hidupnya dengan turun ke jalan menjadi gepeng, anak jalanan ataupun menjadi pekerja seks bebas, Iskandar Lewa menegaskan, bahwa hadirnya Dinas Sosial adalah untuk menghadirkan perubahan pola hidup yang lebih baik lagi dan lebih mandiri bagi pekerja yang setiap saat menjadi target razia Dinsos itu sendiri.
“Untuk pengadaan LIPOSOS, Alhamdulilla, kita sudah sampaikan ke Pak Walikota, dan beliau sangat merespon hal itu. Insya Allah untuk lahan LIPOSOS kita juga sampaikan, ” ungkap Iskandar Lewa.
LIPOSOS adalah lingkungan pondok sosial, merupakan tempat penampungan atau tempat tinggal bagi para penghuni yang memiliki latar belakang dari pengemis, anak jalanan dan gelandangan. Penghuni lipososs dalam pemenuhan hidupnya tidak berusaha sendiri dan mengandalkan bantuan dari dinas sosial. Sehingga dari Liposos perlu mengadakan suatu pelatihan dan bagaimanakah pelaksanaan pendidikan nonformal bagi Anak Jalanan
Dengan terciptanya LIPOSOS di Kota Makassar, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk penanganan dan pemberdayaan.
“Di situ ada upaya pendidikan nonformal bagi anak jalanan ataupun para tuna susila dan para perempuan yang berjenis kelamin laki (waria), ” terang Iskandar Lewa.
Kemudian, hadirnya LIPOSOS nantinya akan memberikan pembinaan pelatihan ini memberikan tambahan wawasan dan juga ilmu pengetahuan serta ketrampilan yang dapat mereka gunakan untuk hidup di dalam masyarakat.
“Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan atau pembinaan skil anak jalanan, tuna susila dan para waria akan berhasil melahirkan bibit – bibit yang kreatif dan terampil, jadi menyembuhkan penyakit masyarakat maka LIPOSOS resepnya, ” kunci Iskandar Lewa. (Ron).




Tinggalkan Balasan